Monday, 5 November 2012

Pulang, Pulang, Pulang

Pulang, Pulang, Pulang

6fc91ee8d8a5cf46711257cd36f5c0c4_alamMenyusul perkelahian massal di Bangli bulan Juli 2011 yang menelan nyawa manusia, seorang sahabat bertanya, bagaimana mungkin di tempat sejuk seperti Bangli bisa terjadi peristiwa panas? Seorang murid yang penuh bakti lain lagi, ia mengirim pesan: “Guru, lebih sering pulang, Bali memerlukan lebih banyak kesejukan”.
Mulih
Meminjam cara pandang tetua Bali, tiap kali perisitiwa ekstrim terjadi tetua selalu menoleh ke Pura. Dan sulit untuk tidak menoleh ke Pura Kehen tatkala Bangli dinodai darah manusia lagi. Terutama karena masih terang dalam ingatan di mana seorang wartawan dihabisi nyawanya juga di Bangli. Kebanyakan warga Bangli khususnya dan sebagian krama Bali umumnya tahu, di Pura Kehen yang berumur amat tua ini tetua menyimpan prasasti tua yang mengingatkan orang Bali untuk pulang.
Pengertian pulang memang amat beragam. Tapi sebagian pencari yang sudah menghirup sejuknya puncak gunung spiritualitas tahu, pulang serupa dengan masa kanak-kanak dulu. Di mana sehabis jam sekolah kita berlari ke rumah, ke sebuah tempat di mana semuanya disambut dengan senyuman dan pelukan. Dan bukan kebetulan yang tidak bermakna apa-apa, bila tidak jauh dari Pura Kehen, masih dalam kawasan kabupaten Bangli, di tempat di mana danau (yoni) memeluk gunung (linggam), tetua mendirikan Pura Jati alias rumah sejati. Di sana tidak saja hawanya sejuk, pemandangannya indah, tapi juga penuh vibrasi kesejatian. Di tataran kesejatian, dualitas (benar-salah, baik-buruk, suci-kotor) tidak ada sebagai bahan-bahan perkelahian. Melainkan menjadi kekuatan yang saling menerangi. Ia serupa malam yang membukakan pintu bagi datangnya siang. Mirip kegagalan yang membuat kesuksesan menjadi lebih kaya rasa. Demikian juga dengan kejahatan, ia memberikan pembanding tentang indahnya kebajikan.
Digabung menjadi satu, pesannya terang benderang, kekerasan bukan rumah alami orang Bali. Bali dikagumi dunia bukan karena peritiwa kekerasan di tahun 1965, tapi karena kedamaiannya yang menawan. Boleh tanya ke wisatawan manca negara yang kerap datang, apa lagi yang dicari di Bali kalau bukan kedamaian. Tatkala bom teroris  pertama kali meledak di Bali, lagi-lagi dunia menatap kagum ke pulau Bali, bukan karena batu yang dilemparkan ke tempat ibadah orang lain, melainkan karena keluasan pandangan, kedalaman  sikap  orang Bali  yang berujung pada satu hal: “semuanya dipeluk lembut dengan senyuman”. Yang lebih menyentuh hati lagi, orang yang diberi berkah berlimpah oleh pulau Bali setelah bom meledak adalah nyama selam (saudara kandung kita yang beragama Islam) Bapak Haji Bambang. Bila boleh jujur, inilah Parama Shanti yang menjadi puncak persembahyangan  orang  Bali. Di mana  tidak  ada ruang bagi kekerasan, semuanya dipeluk lembut dengan senyuman. Tetua Bali menyebutnya Embang (hening). Ada puranya yang berlokasi sekitar danau Tamblingan.
Semua ini  berpesan terang sekali, pulang ke rumah sejati. Di rumah sejati, berlaku rumus sahabat dari Manado: “torang basodara“. Kita semua bersaudara dalam kasih sayang, satu orang tua dalam belas kasih, satu atap rumah yang sama karena sama-sama mau bahagia sama-sama tidak mau menderita. Atau berlaku rumus tetua di Jawa: mangan ora mangan ngumpul. Persahabatan, kekerabatan, kasih sayang lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan nafsu rendah yang hanya mengutamakan perut kenyang.
Dalam buku suci Tantra ditulis terang sekali, kita pernah terlahir dalam jumlah yang tidak terhitung. 0leh karena itu, ada tidak terhitung jumlah makhluk di alam ini yang pernah menjadi ibu, bapak, Guru, saudara kandung, dokter atau perawat yang pernah menolong dan menyembuhkan kita. Bila ini acuannya, kegiatan saling menyakiti tidak saja tidak memungkinkan manusia membayar hutang-hutang karmanya yang berlimpah, malah menambahnya dengan hutang-hutang karma baru yang lebih menakutkan.
Seorang Guru di India sekitar dua ribu  enam ratus tahun lalu ditanya, seberapa banyak manusia yang setelah meninggal perjalanannya naik dan turun? Dengan mengejutkan Guru yang mata spiritualnya sudah terbuka sempurna ini menjawab: “yang bergerak naik sebanyak pasir dalam genggaman, yang bergerak turun sebanyak pasir di sepanjang sungai Gangga”. Bayangkan, itu dua ribu enam ratus tahun yang lalu. Di sebuah waktu di mana belum terdengar adanya alat-alat penghancur dengan daya musnah sedahsyat saat ini. Sekarang, di mana yang disebut berita adalah permusuhan, yang   dibaca  dan  ditonton  orang   adalah  perkelahian, yang didengar orang kebanyakan adalah kebencian, tanpa bekal-bekal spiritualitas mendalam, sulit untuk tidak mengatakan bila di zaman ini yang jatuh turun ke alam binatang, setan bahkan neraka setelah meninggal malah lebih banyak lagi.
Membuka tirai seperti ini, tentu bukan untuk menakut-nakuti orang, tapi untuk membunyikan Genta yang sudah dikumandangkan lagi dan lagi: “pulang, pulang, pulang”. Seperti anak-anak yang bermain, kemarahan, kekerasan, permusuhan menunjukkan bahwa anak-anak spiritual sudah bermain terlalu jauh dari rumah. Kecelakaan, kesialan, kematian adalah tangan keras Guru yang mencubit dengan penuh kasih sayang. Dengan niat tidak lain dan tidak bukan agar para murid tidak jatuh turun setelah waktu kematian. Syukur-syukur bisa mendekati Guru, belajar spiritualitas mendalam, kemudian ikut membantu Guru meringankan beban penderitaan banyak sekali makhluk yang memerlukan pertolongan.
Kebanyakan sahabat yang terlahir di desa tua Bali tahu, persahabatan, persaudaraan, pertemanan itulah menu spiritual keseharian orang Bali. Di desa Tajun Bali Utara sebagai contoh, dulunya tidak ada buruh tani. Melalui tradisi tua yang sudah nyaris punah bernama nguwun, semua pekerjaan ladang dikerjakan bersama-sama sebagai bukti betapa kentalnya menu-menu persahabatan, persaudaraan, pertemanan dalam darah spiritual orang Bali.
Tidak semua orang Bali menyukai pendekatan pulang seperti ini. Sebagian malah menuduh  undangan untuk pulang ini sebagai bahan-bahan kemunduran. Dan tentu saja ini layak dihormati. Namun, di putaran waktu tatkala kekerasan sudah demikian memanasnya bahkan di tempat sejuk sekalipun sekaligus memakan nyawa manusia, kita memerlukan kelembutan-kelembutan. Sebagaimana tubuh fisik yang nyaman pulang, tubuh spiritual juga memiliki kerinduan untuk pulang. Bila kekerasan bermusuhan bahkan dengan sesama kekerasan, kelembutan tidak bermusuhan dengan siapa-siapa. Puncak kelembutan ketemu tatkala seseorang bisa melihat, memperlakukan semua sempurna pada tempatnya. Sesempurna rumput yang berwarna hijau, laut yang berwarna biru.
Sehabis ini, terpulang ke orang Bali, mau pulang ke rumah sejati, atau terasing (merasa aneh) di tengah arus zaman sehingga bernasib seperti ikan di udara, serupa burung di kedalaman lautan.

sumber : http://gedeprama.blogdetik.com/2012/11/01/pulang-pulang-pulang/

Friday, 2 November 2012

Kisah nyata yag menginspirasi





Selasa malam itu, setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam.

Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.



Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya (Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, “Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah isteri dan anak saya?”

Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. ” Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.

Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk.

“Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya. Dan alhamdulillah, saya justeru mendapatkan teh manis hangat dari tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut. “Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.

Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat “Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya” sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana? Tanya saya Saya tinggal di daerah Bintaro tapi…(dia menghentikan bicaranya), Bapak pulang bekerja ? dia balas bertanya.

“Ya” jawab saya singkat.

“Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak menunggu? Tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.

“Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.” Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau saya salah omong.

Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan? Pintanya dengan sedih dan sopan. Airmatanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.

Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. “ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya. “Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak saya” kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang membuat saya heran. Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya? tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus meng-ikhlas- kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun.

Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.

Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.

Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah saya baru sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. “Gila.Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua didalamnya” dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar meng-ikhlaskan semuanya. “Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya biar bisa lebih ikhlas” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.

Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil padahal hal ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan karena kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi malam. Saya belum benar-benar meng-ikhlaskan kejadian tadi malam bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati karena telah menipu saya.

Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus.

“Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan? tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala..

Segera saya buka kotak tersebut dan “Ya Allah, semua milik saya kembali. Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang tertulis ;

” Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah saya berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di Depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di hate bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. Terima kasih.

Dibayar lunas dengan segelas susu




Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Walaupun rumah yang dia kunjungi merupakan rumah sederhana dan boleh dibilang miskin.
Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.
Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.
Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, "berapa saya harus membayar untuk segelas susu ini ?"
Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."
Belasan tahun kemudian, wanita muda yang telah berusia lanjut tersebut mengalami sakit yang sangat komplek dan kritis. Para dokter di kotanya itu sudah tidak sanggup menanganinya.
Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.
Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumahsakit, menuju kamar si wanita tersebut.
Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. . Wanita itu sembuh !!. Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan.
Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatuannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi..
"Telah dibayar lunas dengan segelas susu.." tertanda, DR Howard Kelly.

Melangkah Yang Indah

Melangkah Yang Indah

4ff543fb4e9616c131e5e0fdc942a27b_pathSuatu hari, seorang pendayung perahu mengayuh ke arah hulu. Tiba-tiba ia terkejut melihat ada perahu meluncur deras sekali dari arah hulu persis ke arah dirinya. Tentu saja ia berteriak: “Awas!”. Dan tabrakan pun tidak bisa dihindarkan. Melihat dirinya nyaris mati, perahunya retak, maka marahlah dia sekencang-kencangnya dengat kata-kata sekenanya. Setelah lelah marah, ia mencoba melihat wajah manusia yang ceroboh tadi. Ternyata, tidak ada manusia dalam perahu tadi.
Pelajarannya yang bisa ditarik dari sini, betapa cepatnya manusia marah. Bahkan ketika informasi belum jelas, kemarahan sudah menghadang. Ujungnya, kedamaian terbang entah ke mana. Oleh karena itulah, di setiap pojokan pelayanan,  banyak guru  mengajarkan pentingnya melangkah  indah penuh kedamaian.
Kebanyakan orang mengira kedamaian baru diperoleh setelah  keinginan  terpenuhi.  Dan  ternyata,  sedikit yang menemukan kedamaian dengan cara ini. Terutama karena keinginan bergerak naik sejalan dengan tercapainya sejumlah keinginan. Tatkala keinginan  memiliki motor tercapai, muncul keinginan membeli mobil. Setelah menjadi manajer, muncul keinginan menjadi direktur. Sehingga lelahlah kehidupan karena terus berkejaran.
Terinspirasi dari sini, sebagian pencari kedamaian kemudian menggunakan cara lain yakni belajar menemukan kedamaian dengan cara “berhenti”. Pengertian berhenti di sini adalah menemukan wajah kedamaian dari setiap pengalaman kekinian. Bangun tidur sebagai contoh, ia juga membawa kedamaian. Terutama karena sebagian manusia ketika berusaha bangun di pagi hari tidak bisa karena keburu mati. Disamping itu, bangun pagi memberikan kesempatan untuk merenung, mau diisi dengan apa kehidupan di hari ini. Bila diisi dengan pelayanan, kedamaian buahnya. Jika diisi dengan kejahatan, penderitaan hukumannya.
Bagi kebanyakan orang, kerja itu membosankan. Ia lawannya rekreasi. Lelah, capek,  serba salah, kalau benar atasan diam bila salah atasan mengomel. Tatkala pelayanan baik pelanggan melenggang saat pelayanan salah sedikit saja maka makian menghadang. Itulah gambaran tentang kerja yang  dibikin  banyak manusia.
Pencinta kedamaian lain lagi. Kerja bukan tong sampah yang berisi keluhan, kerja menyembunyikan berlimpah peluang untuk menemukan kedamaian.  Perhatikan setiap tugas yang datang. Dengan sedikit cara pandang positif terlihat, kerja adalah cermin kepercayaan atasan ke kita. Tanpa rasa percaya atasan tidak mungkin ada kerja. Dengan demikian ada kedamaian dalam setiap tugas yang datang.
Kemarahan atasan atau keluhan pelanggan sebagai contoh lain, ia adalah terbukanya pintu perbaikan diri. Tanpa kemarahan atasan dan keluhan pelanggan, kita semua seperti petinju tanpa lawan, bermain sepak bola tanpa ada yang menghitung skor menang kalah. Datar dan bosan sekali kerja jadinya. Untuk itulah, ada kedamaian di balik kemarahan atasan dan keluhan pelanggan.
Gaji dan bonus yang tidak memuaskan kerap menjadi bom yang menghancurkan kedamaian. Dari segi pekerja, judul yang diambil adalah boss pelit, pengusaha yang mau untung sendiri. Dari segi atasan dan pengusaha, judulnya adalah penghematan, investasi masa depan. Dan lenyaplah kedamaian dari dunia kerja. Padahal, dengan sedikit rasa syukur dan kerelaan untuk berhenti membandingkan kehidupan dengan mereka yang lebih tinggi, gaji dan bonus sekecil apapun bisa menjadi sumber kedamaian. Dalam bahasa seorang guru, we can be prosper at any level of income.
Makan, pakaian, penampilan, kendaraan semuanya bisa disesuaikan dengan tingkat penghasilan. Memaksa agar  selalu lebih baik dibandingkan orang, itulah bom penghancur kedamaian yang sesungguhnya.
Apa yang mau diceritakan dengan seluruh ilustrasi ini sederhana, ada peluang kedamaian di setiap langkah kehidupan. Dan kedamaian akan mendekap, kesembuhan akan mendekat, bila kita rajin melatih diri untuk memandang secara mendalam (tidak terlalu mudah dibawa lari kemarahan), melihat terbukanya pintu kedamaian di setiap kejadian, serta rajin berbagi senyuman. Terutama karena senyuman adalah tanda bahwa seseorang sudah menjadi tuan bukan korban kehidupan.
Bahan renungan:
1. Kelangkaan kedamaian, itu keluhan banyak orang
2. Padahal, dengan belajar “berhenti” dikejar keinginan plus sejumlah rasa syukur, kehidupan sesungguhnya sebuah kedamaian
3. Ia yang memandang secara mendalam, bahwa semua mau bahagia, semua tidak mau menderita, rajin berbagi senyuman dan pelayanan, suatu hari mengerti bahwa setiap langkah adalah indah

sumber : http://gedeprama.blogdetik.com/2012/10/05/melangkah-yang-indah/

Indah Apa Adanya

Indah Apa Adanya

d4ee38755524296cad69bc80e5ea0d8a_bunga8Kekayaan ekonomi mendikte pengetahuan dan kekuasaan, mungkin ini ciri utama zaman ini. Beberapa puluh tahun lalu, ketika kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat lagi di puncak, ia memproduksi sekolah bisnis. Harvard ketika itu menjadi semacam ikon yang ditiru dunia. Di akhir 1980an, keajaiban ekonomi Jepang membuat dunia terkagum-kagum, kemudian diikuti oleh studi yang membuahkan konsep budaya korporasi. Lagi-lagi dunia ikut nurut. Di tahun 2010 ini, China menjadi kekuatan ekonomi yang tidak bisa dibendung. Dan sudah mulai ada peneliti yang mengkait-kaitkan kemajuan ekonomi China dengan budaya Konfusian.
Kekuasaan di negeri ini  serupa. Jangankan posisi yang jauh dari pantauan publik, bahkan menteri dengan integritas tinggi pun tumbang digusur oleh kekuasaan beraroma uang.
Mungkin itu sebabnya John Law dkk (1991) memberi judul karyanya   A   Sociology   of   Monster.  Pengetahuan (apa lagi kekuasaan) mulai diragukan bisa menjadi lahan-lahan subur pertumbuhan kebenaran, sebaliknya malah larut dibawa arus uang, kemudian ikut-ikutan menjadi monster yang memangsa kebenaran. Pertanyaannya kemudian, mungkinkah muncul manusia otentik di zaman ini?
Muncul Lenyap
Sebagai langkah awal membuka tirai kejernihan, sesungguhnya tidak saja pengetahuan dan kekuasaan yang berputar perannya dari waktu ke waktu, semuanya berputar. Ia sesederhana matahari, pagi muncul dengan hawa hangat, siang panas menyakitkan, sore lenyap menyisakan kegelapan.
Itu sebabnya, dalam meditasi diajarkan untuk melihat ketidakkekalan dengan jarak yang sama. Perhatikan manusia yang dijumpai dalam keseharian. Di suatu waktu ia memuji, di lain waktu ia memaki, di kesempatan lain ia lupa.
Mantan presiden Filipina Ferdinand Marcos adalah contoh indah. Puluhan tahun dikagumi banyak orang lengkap dengan kekuasaannya, di lain waktu ia ditumbangkan. Ujung kekuasaannya tidak menyisakan apa-apa, bahkan mayatnya pun tidak diperbolehkan masuk Filipina. Sekian puluh tahun berlalu, salah satu putera Marcos memutar balik sejarah dengan memperoleh dukungan dalam pemilu. Bukan tidak mungkin keluarga itu akan dihormati lagi.
Nelson Mandela di Afrika Selatan adalah contoh lain. Selama 27 tahun merana di lembaga pemasyarakatan. Ketika rezim kulit putih jatuh, ia muncul menjadi pahlawan. Tatkala cerai dengan istrinya, sebagian mata memandang dengan pandangan miring. Inilah yang disebut ketidakkekalan. Tidak saja    manusia   di   luar   sana   tidak  kekal,  tubuh  ini hari ini menyenangkan karena makan enak, besok menyakitkan karena terkena penyakit, hari lain terlupakan karena sibuk.
Memaksa bahwa hidup harus terus penuh kesenangan, itulah penderitaan. Menjaga jarak yang sama pada setiap kejadian, itulah kedamaian dan kebebasan. Dari sanalah kemudian mungkin muncul kualitas otentik yang tidak bisa diperkosa monster uang dan kekuasaan.
Senyum Saja
Clouds in the sky of enlightenment, demikianlah pesan guru tercerahkan (baca: otentik) pada muridnya dalam mengarungi kehidupan. Semua pengalaman kehidupan serupa awan di langit pencerahan. Kesenangan serupa awan putih, kesedihan mirip awan hitam. Awan hitam tidak membuat langit jadi hitam, awan putih tidak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru luas tidak terbatas.
Bagi batin  tercerahkan, kebahagiaan yang diperebutkan tidak menambahkan apa-apa, kesedihan yang dienyahkan  tidak mengurangkan apa-apa.  Terutama karena terlihat terang benderang, semua berputar indah apa adanya. Perhatikan ikan yang hidup di air, burung yang terbang di udara. Ikan tidak menyebut burung bodoh karena tidak mengenal kehidupan dalam air, burung tidak menyebut ikan kurang wawasan karena tidak terbang ke mana-mana. Keduanya bahagia apa adanya. Mendengar penjelasan seperti ini, ada yang mengungkapkan keraguan, kalau begitu manusia tercerahkan pasif dan tidak melakukan apa-apa?
Kendati tidak tersentuh oleh kejadian, sifat alami mahluk tercerahkan penuh kasih sayang. Seperti air yang tidak bisa dipisahkan dengan basah, api yang tidak bisa dipisahkan dengan   panas,   pencerahan   tidak  bisa   dipisahkan dengan kasih sayang. Oleh karena itulah, mahluk tercerahkan kesehariannya banyak senyuman. Tatkala gembira ia senyum, saat berduka juga senyum. Mungkin kedengarannya aneh, namun demikianlah keseharian mahluk tercerahkan, terutama karena yang mengagumkan muncul lenyap, yang menjengkelkan muncul lenyap.  Seperti matahari, apa pun komentar orang, besok pagi ia tetap terbit kembali melayani kehidupan.
Seorang anak muda protes keras, kesannya cuek dan membosankan? Keheningan yang tidak dipeluk kasih sayang tidak pernah diajarkan sebagai jalan pencerahan. Setelah membadankan dalam-dalam hakekat semua fenomena yang muncul lenyap, guru-guru tercerahkan kemudian mengisi hidupnya dengan pelayanan. Bukan pelayanan yang memaksa harus masuk surga, bukan juga pelayanan yang trauma akan neraka. Sebagaimana samudera yang selalu membawa kegembiraan gelombang, pencerahan selalu membawa kegembiraan kasih sayang bersamanya. Ada kebahagiaan menawan di balik  penerapan kasih sayang.
Seorang kakek ditanya cucunya, kenapa orang tercerahkan juga dimaki dan disakiti?. Dengan lembut kakeknya bergumam, semua memiliki sifat alami masing-masing. Seperti kambing, bila dikasi rumput dimakan, jika dikasi daging akan menghindar, tanpa perlu mencaci bahwa pemakan daging dosa dan masuk neraka. Serupa serigala, jika dikasi daging dimakan diberi rumput menghindar, tanpa mencaci bahwa orang vegetarian bodoh dan tolol. Sejalan dengan ini, sejumlah manusia memang panggilan alaminya memaki dan menyakiti. Dan dalam pandangan guru tercerahkan, makian adalah bel kesadaran untuk selalu peduli dan rendah hati. Ketika disakiti, sesungguhnya manusia sedang mengalami pemurnian.
Bila begini cara mengalami kehidupan, maka uang dan kekuasaan berhenti menjadi monster menakutkan. Sekaligus membukakan kemungkinan bagi terlahirnya manusia otentik.
Bahan renungan:
1. Muncul lenyap, itulah sifat alami semua fenomena. Yang baik muncul-lenyap, yang busuk muncul-lenyap
2. Ciri manusia menderita sederhana, mencengkeram berlebihan yang baik, sehingga menderita saat yang baik lepas. Menendang berlebihan yang buruk, padahal putaran waktunya sudah tiba bagi yang buruk untuk menjadi tamu kehidupan. Dan menderita juga
3. Mahluk tercerahkan berbeda, ia mendidik diri secara keras untuk menjadi langit, kemudian melihat semua fenomena sesederhana awan yang muncul lenyap. Inilah pintu kedamaian yang terbuka.

sumber : http://gedeprama.blogdetik.com/2012/09/21/indah-apa-adanya/

Menyatu Dalam Doa

Menyatu Dalam Doa

d4b3ad6869079416d7b64bf2343d9fb2_cerahSuatu hari sepasang pemuda menemukan sepuluh berlian. Tentu saja keduanya berebut ribut. Yang melihat pertama kali memaksa dapat lebih, yang mengambil dari tanah juga sama. Akhirnya mereka sepakat  menyerahkan pembagiannya pada Nasrudin. Dengan lembut Nasrudin bertanya: “mau cara Allah atau cara manusia?”. Pemuda yang berpeci langsung menjawab agar dibagi dengan cara Allah. Akibatnya,  Nasrudin memberikan pemakai peci dua berlian, memberikan delapan berlian pada pemuda tanpa peci.
Tentu saja ini mengundang protes keras. Lagi-lagi Nasrudin bergumam pelan: “ciri manusia yang dekat dengan Allah suka mengalah, menemukan kebahagiaan melihat orang lain bahagia”. Bukan Nasrudin namanya kalau tidak menyentak kesadaran. Sementara sebagian orang egonya membesar, seiring dengan semakin dalamnya doa, Nasrudin menyentak sebaliknya.
Di mana ego dan keakuan itu mengecil, mengecil dan akhirnya menghilang diganti kasih sayang, di sana buah spiritual bernama pencerahan terbit seperti matahari pagi mengusir kegelapan. Ego dan keakuan dengan berbagai bentuk dan akal bulusnya suka menipu manusia. Bila ia tidak bisa menggoda dengan harta, tahta, wanita, ego bisa mengenakan jubah Tuhan. Itu sebabnya mereka yang penggalian ke dalamnya sudah demikian mengagumkan, sejak awal ego sudah diwaspadai. Mirip dengan mewaspadai kegelapan yang membuat tali menjadi  menakutkan karena dikira ular. Dan begitu cahaya terang dihidupkan (baca: tercerahkan), seluruh ketakutan termasuk ketakutan akan kematian lenyap. Disamping itu, mentari pencerahan juga menghadirkan kerinduan akan pelayanan. Seperti nasehat Nasrudin, indah tatkala mengalah dan berbahagia saat melihat orang lain bahagia.
Di mata orang biasa, orang-orang seperti Nasrudin memang mudah dikira bodoh, tolol dan menderita, tapi di mata mahluk tercerahkan ini mengagumkan. Terutama karena di zaman yang hanya menghargai kemenangan, kemenangan dan kemenangan, kalah seperti dihantam setan, serupa dikutuk Tuhan secara menakutkan. Dan sedikit yang bisa menemukan sesungguhnya ada yang indah ketika kalah. Serupa kayu yang sedang dihaluskan menjadi patung, seperti bambu yang sedang dilobangi menjadi seruling, mirip logam emas yang dibakar menjadi anting indah nan menawan, demikianlah bentuk keindahan yang ada di balik kekalahan. Syarat untuk sampai di sini sederhana, tidak melawan dan menendang, sebaliknya tersenyum memeluk ketulusan dan keikhlasan.
Ini yang menerangkan kenapa ada yang berbeda tatkala melihat senyuman Nelson Mandela, Bunda Teresa atau YM Dalai Lama. Kenapa kebajikan Haji Bambang di Bali mengundang   demikian   banyak  kekaguman orang. Bagi hati yang bersih, lama terhubung dengan kesucian, menemukan kebahagiaan dalam pelayanan, bisa menangis haru tatkala melihat senyuman orang-orang ini. Kemudian memunculkan kerinduan untuk  menyayangi dan menolong orang lain. Karena itulah doa sesungguhnya.
Seorang remaja pernah meneteskan air mata tatkala mendengar tangisan banyak babi disembelih di hari raya tertentu di Bali. Tatkala ditanya kenapa, dengan sedih ia bergumam, ia merasakan rasa sakit babi yang disembelih. Ini juga wajah lain manusia yang menyatu dalam doa, tidak saja lapar menyayangi dan melayani, tetapi juga merasakan penderitaan mahluk lain.
Terinspirasi dari kisah-kisah seperti ini, maka sebagian kecil manusia yang sudah menyatu dalam doa kemudian mengurangi frekuensi kunjungan ke tempat ibadah. Mereka berhenti berdoa dengan cara yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun pergi ke tengah keramaian, menyediakan tangan untuk pelayanan. Itu sebabnya, tatkala seorang guru zen tercerahkan mencari tempat mengajar meditasi di Amerika Serikat, ia menolak tempat-tempat damai seperti di pinggir danau yang sejuk,  pantai yang sepi, di gunung yang hening. Tatkala muridnya menunjukkan tempat di gang sebuah kawasan kumuh di New York yang berisi orang berkelahi, manusia menyuntikkan narkoba, guru ini langsung berguman: “inilah tempat di mana vibrasi kedamaian diperlukan”.
Bahan renungan:
1. Terlalu banyak manusia yang berdoa lengkap dengan segala variasinya
2. Cuman, tidak banyak yang tersambung  ke alam doa. Terutama karena kebanyakan manusia masih di angka 2 (baca: antara penyembah dan yang disembah masih terpisah)
3. Menyatu dalam doa (baca: angka 1) terjadi tatkala ego dan keakuan lenyap digantikan pelayanan dan kasih sayang. Yang sudah lama tenggelam dalam pelayanan mengerti, ternyata yang melayani dan yang dilayani tidak ada (baca: angka 0)

sumber : http://gedeprama.blogdetik.com/2012/10/19/menyatu-dalam-doa/

Mata Pencaharian



Perjuangan


Sahabat Sejati


Sukses


Karma


NOW


Kehidupan yg Benar


Hidup adalah Kesempatan


Energi Positif












Diam


Bersyukurlah


Kisah Yu Yuan, Malaikat Kecil dari China

Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat, yang berjuang hidup dari Leukimia Ganas, setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Sungguh .. tak abis kata2 untuk Yu Yuan. Terima kasih telah memberikan contoh mulia kepada kami…

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun.
Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.

Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.




Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi disekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah.

Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.




Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”.Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannyasendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.



Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisamenahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satuNegara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta sayamengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring diranjang untuk diinfus.



   





Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertamakali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Minmenawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.


Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut.

Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.
Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. YuYuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik.

Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dandiatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante,kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah.



Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan dipencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit,kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerimakehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidakmampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kamidiatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia. Walaupun hidup serba kekurangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.

Tidak Ada Yang Sia-Sia

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja anda mengalami pengalaman buruk yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda.
Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis.
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang anda temui di selokan rumah anda?

Orang Sukses Karena Ide Kecil Yang Tidak Disengaja

Ide-ide kecil tak selalu menggambarkan pendapatan kecil. Ide kecil juga bisa berarti big money. Tergantung bagaimana menggarapnya. Sejumlah ide kecil bahkan menjadi penemuan besar karena produk sepele itu menjadi barang yang amat bermanfaat di masa sekarang.
Berikut ini adalah sejumlah orang yang sukses mengembangkan ide kecil menjadi sesuatu yang luar biasa. Sebagian mengantarnya menjadi pengusaha dengan penghasilan luar biasa sebagian lain memperoleh kedudukan bergengsi dan tercantum namanya di dalam deretan penemu-penemu hebat dunia.

1. Bette Graham Mistake Out

Idenya menutupi salah ketik dengan cairan putih yang cepat beku. Adalah Bette Graham yang punya ide itu. Sekitar tahun 1951 Ms Graham menjadi sekretaris eksekutif yang sering mengetik dokumen penting. Agar tak usah mengulang mengetik dokumen setiap kali ada salah ketik ia menggunakan cat putih yang ia ramu sendiri. Ternyata cat putih plus kuas kecil yang dinamakannya Mistake Out itu disukai teman-temannya juga. Akhirnya ia mendirikan pabrik Mistake Out.

Pada tahun 1972 omset usahanya sudah lima juta botol Mistake Out setiap tahunnya. Ketika ia meninggal tahun 1980 kekayaannya mencapai 475 juta dolar AS. Siapa sangka ide kecil itu bisa membuatnya kaya.


2. Earle Dickson Band-Aid

Capek berkali-kali menempelkan perban pada jari istrinya yang sering terluka saat mengiris makanan di dapur Earle Dickson menemukan cara jitu. Ia menggunting kain kasa kecil lalu menempelkannya di selotip.

Dengan cara ini kain kasa jadi mudah ditempelkan pada luka kecil. Ternyata ide yang dimunculkan pada sekitar tahun 1920-an itu cukup brilian sampai-sampai perusahaan tempatnya bekerja Johnson & Johnson memproduksinya secara massal dan Earle Dickson sendiri diangkat menjadi wakil presiden Johnson & Johnson.

3. Albert J. Parkhouse Gantungan Baju

Ia kehabisan cantelan jaket di dinding saat tiba di tempatnya bekerja. Albert J. Parkhouse yang bekerja di pabrik kawat pada sekitar tahun 1903 akhirnya menemukan ide. Kawat ia bentuk oval dengan dua ujung kawat disatukan sehingga menjadi kaitan. Dengan kawat bentukan itu ia bisa menggantungkan jaket dan mencantelkannya dengan mudah di dinding tanpa mengganggu jaket lain yang ada di sana. Itulah awal ditemukannya gantungan baju.

Sekarang siapa yang tak membutuhkan gantungan baju? Ide kecil itu kini jadi bisnis besar. Inilah bukti bahwa masalah kecil bisa jadi ide sukses yang luar biasa.

4. Arthur Fry Post-it

Bagaimana cara membuat catatan yang mudah ditempel mudah dilihat dan mudah pula dilepas? Arthur Fry punya caranya. Idenya didapat dari temannya yang memanfaatkan lem gagal (tidak lengket) sebagai bahan penempel kertas untuk menandai halaman di kitabnya. Arthur lalu mengembangkannya menjadi produk yang belakangan dikenal sebagai Post-it.

Post-it ide kecil itu kemudian menjadi produk andalan 3M (perusahaan yang mempekerjakan Arthur) dan menjadi bisnis besar. Kini dunia mengenalnya sebagai kertas catatan tempel yang populer.

5. David Horvarth dan Sun-Min Kim Ugly Doll

Apakah hanya boneka berwajah cantik saja yang laku? Sepasang kekasih David Horvarth dan Sun-MinKim justru memilih sebaliknya. Mereka membuat boneka buruk rupa (Ugly Doll) yang ternyata laku di pasaran. Sampai-sampai anak-anak Presiden AS Barack Obama juga mengoleksi boneka Ugly Doll itu.

Idenya sebenarnya sederhana. David suka membuat gambar monster di bukunya. Kekasihnya Kim memberinya kejutan saat David berulang tahun. Kim yang asal Korea membuat boneka berdasarkan gambar monster yang dibuat David. Hasilnya ya Ugly Doll itu. Kini mereka menjadi pengusaha boneka yang terkenal di AS gara-gara ide kecil dari gambar monster karya David Horvart.

6. Toru Kumon Kumon

Anak pertama Toru Kumon seorang guru matematika SMA di Jepang sulit belajar matematika. Kumon lalu membuat metode (modul) pelajaran matematika bagi anaknya agar memudahkannya memahami ilmu hitung ini pada tahun 1954. Metode itu ia namakan Metode Kumon. Ternyata dengan metode itu anaknya bisa mengikuti pelajaran matematika dengan sangat baik. Setelah itu para tetangganya ingin mencoba metode yang sama. Kumon lalumendirikan Kumon Center.

Kini sebanyak 26.000 Kumon Center berdiri di 44 negara dengan pola pengembangan jaringan franchise.

Kisah Wilma Rudolf

Kisah Wilma Rudolf
Di sebuah tempat terpencil di Tenessee, USA, seorang bayi perempuan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin. Anak itu adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara, lahir premature dan lemah. Kelangsungan hidupnya diragukan semua orang. Ketika berumur empat tahun dia menderita Pneumonia parah dan demam scarlet – sebuah kombinasi penyakit yang mematikan yang membuat kaki kirinya lumpuh dan tidak bisa digunakan. Dia harus menggunakan penyangga kaki dari besi untuk membantunya berjalan. Namun anak ini sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat padanya.
Ibunya yang luar biasa selalu mengatakan pada anaknya yang ternyata sangat pandai tersebut bahwa walaupun kakinya harus menggunakan penyangga, dia dapat melakukan apapun yang dia inginkan dalam hidupnya. Ibunya mengatakan bahwa untuk itu yang harus dimilikinya adalah keyakinan, kegigihan, keberanian dan semangat yang selalu menggelora.
Lalu pada usia Sembilan tahun, gadis kecil tersebut memutuskan untuk melepaskan penyangga kakinya dan mulai melangkahkan kakinya yang kata dokter tidak akan bisa normal kembali. Dalam empat tahun dia mulai dapat berjalan secara normal, ini sebuah keajaiban bagi dunia medis. Dikemudian hari, gadis itu memiliki sebuah impian untuk menjadi pelari wanita terhebat di dunia. Pertanyaannya, mungkinkah dengan kaki yang tidak sempurna seperti itu?
Di usia yang ke tiga belas tahun, dia mulai mengikuti lomba lari. Dia menjadi yang terakhir mencapai finish. Dia selalu mengikuti setiap perlombaan lari di SMA dan dalam setiap perlombaan dia selalu menjadi yang terakhir mencapai finish. Semua orang memintanya untuk menyerah saja! Sampai suatu hari, dia tidak menjadi yang paling akhir mencapai finish dan akhirnya tibalah hari dimana dia memenangkan lomba lari. Sejak sat itu Wilma Rudolph selalu memenangkan perlombaan lari yang dia ikuti.
Wilma melanjutkan sekolahnya di Tenessee State University di mana dia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Ed Temple melihat semangat yang menggelora pada diri Wilma dan dia juga melihat sebuah bakat natural dalam diri Wilma. Dia melatih Wilma sampai Wilma terpilih untuk masuk dalam Tim Olimpiade Amerika.
Dalam sebuah perlombaan lari Wilma harus bertanding melawan Jutta Heine, sorang pelari asal Jerman yang merupakan pelari terhebat saat itu. Tak seorang pun bisa mengalahkan Jutta, namun dalam nomor lari gawang 100 meter, Wilma Rudolph memenangkan pertandingan. Dia mengalahkan Jutta lagi pada nomor lari 200 meter. Sekarang Wilma memenangkan 2 medali emas.
Akhirnya di nomor lari 400 meter estafet, Wilma bertemu Jutta lagi. Dua pelari pertama dalam team Wilma melakukan estafet tongkat dengan sempurna, namun saat pelari ketiga menyerahkan tongkat pada Wilma, dia menjatuhkannya karena sangat tegang. Wilma melihat Jutta sudah berlari di lintasan mendahuluinya. Dalam situasi seperti itu sangatlah tidak mungkin untuk mengejar dan mendahukui pelari sekleas Jutta. Namun akhirnya Wilma melakukannya, dia kembali mengalahkan Jutta Heine. Wilma Rudolph berhasil memenangkan 3 Medali Emas Olimpiade Roma Tahun 1960 !!! Bersama Tim Estafetnya Wilma mencetak Rekor Dunia Lari 400 meter Estafet!!!
Julukan yang diberikan pada Wilma Rudolph :
Orang di Amerika menyebutnya “The Tenessee Tornado”
Orang Italy menjulukinya “La Gazella Nera” (Si Gazelle Hitam)
Orang Perancis memberi nama “Le Perle Noire” (Si Mutiara Hitam)
US Postal Service (USPS) mencetak perangko 23 Cent dengan gambar Wilma pada tahun 2004, sepuluh tahun setelah Wilma Rudolph meninggal dunia karena kanker di usia 54 tahun.
Kesimpulan :
Bagaimanapun keadaan anda saat ini, jika anda  mempunyai kemauan dan anda katakan bisa, maka anda akan menjadi apa yang anda inginkan. Keadaan yang sulit bukan suatu alasan untuk tidak meraih sukses.

Kisah Keluarga Burung


Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga burung. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bersuara lembut hingga yang bersuara menggelegar. Mereka tinggal di suatu pulau nun jauh di balik bukit pegunungan.
Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana. Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung. Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung Kondor, burung elang dan rajawali adalah para penjaga yang bertugas melindungi dan menjaga keselamatan penghuni negeri burung.
Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur. Kicau mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan gesekan daun. Burung-burung berbulu warna warni, pemberi keindahan.
Mereka bertugas bekeliling negri melebarkan sayapnya, agar warna-warni bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan kegembiraan. Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa senang.
Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya. Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang.
Akhirnya, di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas. Ada 3 anak elang yang nampak kuat berdiri. Dua anak elang hanya mampu mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur harus berakhir dalam paruh sang ayah. Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk calon anak yang tak jadi. Perlahan-lahan sang induk memberikan potongan-potongan tubuh anaknya ke dalam paruh mungil anak-anak elang. Kejam…? Ini hanya masalah kepraktisan.
Untuk apa terbang dan mencari makan jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang. Sebagai hewan, elang hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani. Inilah yang membedakan manusia dan hewan.
Waktu berjalan terus, hari berganti hari. Anak-anak elang yang berbentuk jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya. Bulu-bulu halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing. Kaki kecil anak-anak elang sudah mampu berdiri tegak.
Walau kedua sayapnya belum tumbuh sempurna. Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang. Memastikan tak ada ular yang mengincar anak-anak elang dan memastikan anak-anak elang tak jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon. Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan elang jantan menjaga sarang. Salah seekor anak elang bertanya: “Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?” Induk elang dan elang jantan tersenyum, bertukar pandang lalu elang jantan berkata: “Waktunya akan tiba, anakku. Jadi sebelum waktu itu tiba, makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat”. Usai sang elang jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan kuat-kuat.
Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang. Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan. Anak-anak elang, masuk di bawah sayap elang jantan. Mencari kehangatan kasih sang jantan.
Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim semi. Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan. Bahkan sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah. Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar. Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang, ketika ada angin kencang, kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang sehingga ia meluncur ke bawah. Induk elang langsung merentangkan sayang dan mendekati sang anak seraya berkata: “Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!”
Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak mendengar apa yang dikatakan ibunya. Elang jantan menukik cepat dari jauh dan membiarkan sayapnya terentang tepat sebelum si anak mendarat di tanah. Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anak elang.
Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Induk elang, dengan kasih memeluk sang anak. Menyelipkan di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan. Sesudah si anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak kembali ke sarang.
Peristiwa itu menimbulkan rasa trauma pada si anak elang. Jangankan berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap. Berdiri di tepi sarang saja ia sangat takut. Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam jarak pendek. Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.
Lama berselang setelah melihat kedua saudaranya berlatih, si elang yang pernah jatuh bertanya pada ibunya: “Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?” “Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!” jawab si induk elang dengan penuh kasih.”Tapi aku takut!’ ujar si anak. “Kami tahu, karenanya kami ta memaksa.” Jawab si induk elang lagi. “Lalu apa yang harus kulakukan agar aku beraai?” tanya si anak. “Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!”. “Bagaimana caranya?” “Percayalah pada kami!” Ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di tepi sarang.
Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan. Tiba-tiba si anak elang bertanya lagi. “Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang keseberang lautan?” Dengan tenang si elang jantan berkata: “Anakku kalau kau tak pernah merentangkan dan mengepakkan sayapmu, kami tidak pernah tahu, apakah kamu mampu atau tidak. Karena yang tahu hanya dirimu sendiri!”
Lalu si induk elang menambahkan: “Mulailah dari sekarang, karena langkah kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu. Semua perubahan di mulai dari langkah awal, anakku!”
Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang jantan. Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya sendiri. Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan mereka ada dan selalu ada, jika si anak memerlukan.
Didorong rasa bahagia akan cinta kasih orang tuanya, si elang kecil berjanji akan berlatih dan mencoba. Ketika akhirnya ia menggantikan elang jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung, maka tahulah ia, bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad terbangun melangkah.
Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas tekad. Tapi tekad itu harus diwujudan dengan tindakan nyata walau di mulai dari langkah yang kecil. Mulailah rentangkan dan kepakkan sayap kemampuanmu, maka dunia ada digenggamanmu!

Selamat Pagi, Anda Kena PHK!


kena-phk.jpgSeorang Chief Operating Officer sebuah perusahaan ternama dunia hari itu datang kekantornya yang megah tepat jam 7 pagi. Sang pemilik perusahaan memasuki ruang kerjanya tak lama kemudian. Setelah berbasa-basi sedikit, beliau berujar;”My friend,” katanya. “Aku bangga dengan hasil kerjamu selama ini,” lanjutnya. Sang CEO tentu saja bahagia mendengar pujian bossnya itu. “Namun,” lanjut si boss. Kali ini, hati CEO itu mulai dihinggapi tanda tanya besar. “Para stakeholders kita menginginkan untuk menggantikanmu dengan seseorang yang lebih baik…..” Saat itu juga, pagi yang cerah seakan-akan berubah menjadi gelap gulita sambil sesekali dikilati cahaya dari bunyi petir dan gelegar halilintar yang membuat jiwa bergetar. Sang CEO hanya bisa terpana. Seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Seandainya, berita itu tidak ditujukan kepada CEO yang sedang kita bicarakan itu. Melainkan kepada anda. What are you going to do?
Boleh jadi anda mengira bahwa percakapan diatas itu sekedar rekaan belaka. Tapi, jika anda mengikuti perkembangan dunia bisnis internasional akhir-akhir ini; anda akan menemukan bahwa pembicaraan semacam itu sungguh-sungguh terjadi didunia nyata. ‘Korbannya’? Banyak. Mulai dari orang nomor satu di bank terkemuka. Pemimpin perusahaan farmasi tercanggih. Hingga raksasa minuman berbahan dasar kopi yang aroma ketenarannya sampai kesini. Bahasa politik boleh mengatakannya dengan halus, semisal; pensiun dini atau golden shake hand. Tetapi, dalam bahasa kita; itu tidak beda dengan tiga huruf mengerikan bernama P. Dan H. Dan K. Sounds familiar, right? Yes, that PHK.
Anda tentu masih ingat kisah tragis legendaris yang menimpa kapal pesiar Titanic yang tenggelam pada tanggal 14 April 1912. Peristiwa itu diperkirakan menelan 1,500 korban jiwa. Para ahli mempercayai bahwa faktor utama yang menyebabkan banyaknya jumlah korban jiwa bukanlah semata-mata tenggelamnya kapal tersebut, melainkan; kurangnya jumlah sekoci yang ada dikapal itu dibandingkan dengan jumlah penumpang yang ada. Mereka begitu yakin bahwa Titanic tidak bisa tenggelam. Jadi, mengapa harus menyediakan sekoci? Konon, ketika perisiwa itu terjadi; sesungguhnya masih banyak waktu untuk melakukan penyelamatan. Namun, karena jumlah sekoci penyelamat hanya sedikit, hanya sebagian kecil saja yang bisa diselamatkan.
Dalam kehidupan kerja pun kita sering berpikir seperti itu. Kita begitu yakin bahwa kapal yang kita gunakan untuk mengarungi samudera dunia kerja ini tidak akan tenggelam. Sehingga kita tidak merasa penting untuk memiliki sekoci. Tetapi, berapa banyak sudah perusahaan yang gulung tikar dan kemudian tenggelam seperti halnya Titanic? Jika kita boleh berkata tanpa sensor, sesungguhnya dunia kerja kita lebih beresiko daripada Titanic. Apa yang terjadi pada Titanic adalah musibah bagi semua penumpang. Semua orang menghadapi masalah yang sama. Sebab; orang baik tidak ditendang keluar dari kapal. Tetapi, dalam sebuah perusahaan; sudah sering terjadi seorang karyawan ditendang keluar dari bahtera perusahaan semudah itu. Seperti peristiwa yang menimpa sang CEO diatas itu.
Jika itu bisa terjadi kepada pimpinan puncak sebuah perusahaan; maka tidak heran jika bisa dengan sangat gampangnya menimpa karyawan- karyawan dilevel lainnya. Ya. Tentu saja. Anda sudah tahu itu. Bahkan mungkin sudah banyak teman anda yang terkena PHK juga. Sayangnya, saat ini pun kita masih begitu yakinnya untuk mengatakan bahwa kita tidak akan mengalami nasib seperti itu. Sungguh, tidak ada yang menjaminnya. Sebab, bagaimanapun juga itu bisa menimpa siapa saja. Karyawan yang jelek. Karyawan yang bagus. Karyawan dilevel manapun juga. Direktur? Sudah banyak direktur yang terkena PHK juga, bukan?
Seseorang mungkin menganggap anda terlampau pesimis dalam memandang masa depan pekerjaan. Ada bedanya antara sikap pesimis dengan sikap antisipatif. Seseorang yang pesimis, memandang dari sisi negatif, dan dia tidak melakukan apa-apa untuk mempersiapkan dirinya, kecuali memelihara perasaan was-was. Sedangkan, orang yang antisipatif, memandang sebuah resiko secara rasional dan proporsional. Lalu dia mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi sulit jika terjadi sewaktu-waktu.
PHK adalah resiko kita sehari-hari. Kita tidak perlu terlampau percaya diri dengan mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi pada kita. Atau sebaliknya terlalu takut jika mengalaminya. Sebab, selama kita ‘mempersiapkan diri kita untuk menghadapi kemungkinan itu,’ maka yakinlah bahwa masa depan kita akan baik-baik saja. Paling tidak, kita tidak terlampau syok, jika itu benar-benar terjadi. Dan yang lebih penting dari itu adalah; memulai mempersiapkan ‘sekoci’ itu dari saat ini. Sekoci yang selalu siap digunakan jika sewaktu-waktu kita membutuhkannya.
Begitu beragamnya reaksi orang ketika terjadi PHK. Ada yang panik. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang senang alang kepalang. Ada orang yang mendapatkan ‘golden shake hand’ tetapi hatinya miris dan menghadapi dunia didepannya dengan tatapan pesimis. Ada yang mendapatkan uang pesangon sekedar sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam undang-undang; namun, memandang masa depannya dengan antusias dan optimis. Mengapa sikap mereka bisa beda begitu ya? Ternyata, orang-orang yang sudah ‘mempersiapkan’ dirinya untuk situasi sulit seperti itu lebih bisa menghadapi kenyataan itu. Mereka melihat sisi terangnya. Dan mereka menemukan bahwa; itu bukanlah akhir dari segala-galanya.

DI MANA LETAK KEBAHAGIAAN?


Dimana Letak KebahagiaanKonon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih”.
Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya?
Malaikat pertama mengusulkan, “Letakan dipuncak gunung yang tinggi”.
Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju.
Lalu malaikat kedua berkata, “Latakkan di dasar samudera”.
Usul itupun kurang disepakati.
Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.
Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.
Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?
Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, ditempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor, dan lainnya. Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dll.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan. Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan. Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.
Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalu aku punya ini atau itu, pikir kita. Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan.
Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana mereka meletakkannya? Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan  didasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.
Dimanakah tempatnya?
Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.
Begitu juga hidup ini.Kita harus rendah hati.
Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita.
Sering kali kita berkata, ach… gue mah belum jadi orang.
Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI dll.
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan.
Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.
Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.
Jika menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapainya semua itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke-7 faktor tersebut menjadi seimbang?
Yang penting disini adalah hikmat.
Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.
Oh ya…, dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?
DI HATI YANG BERSIH.