Menyatu Dalam Doa
Tentu saja ini mengundang protes keras. Lagi-lagi Nasrudin bergumam pelan: “ciri manusia yang dekat dengan Allah suka mengalah, menemukan kebahagiaan melihat orang lain bahagia”. Bukan Nasrudin namanya kalau tidak menyentak kesadaran. Sementara sebagian orang egonya membesar, seiring dengan semakin dalamnya doa, Nasrudin menyentak sebaliknya.
Di mana ego dan keakuan itu mengecil, mengecil dan akhirnya menghilang diganti kasih sayang, di sana buah spiritual bernama pencerahan terbit seperti matahari pagi mengusir kegelapan. Ego dan keakuan dengan berbagai bentuk dan akal bulusnya suka menipu manusia. Bila ia tidak bisa menggoda dengan harta, tahta, wanita, ego bisa mengenakan jubah Tuhan. Itu sebabnya mereka yang penggalian ke dalamnya sudah demikian mengagumkan, sejak awal ego sudah diwaspadai. Mirip dengan mewaspadai kegelapan yang membuat tali menjadi menakutkan karena dikira ular. Dan begitu cahaya terang dihidupkan (baca: tercerahkan), seluruh ketakutan termasuk ketakutan akan kematian lenyap. Disamping itu, mentari pencerahan juga menghadirkan kerinduan akan pelayanan. Seperti nasehat Nasrudin, indah tatkala mengalah dan berbahagia saat melihat orang lain bahagia.
Di mata orang biasa, orang-orang seperti Nasrudin memang mudah dikira bodoh, tolol dan menderita, tapi di mata mahluk tercerahkan ini mengagumkan. Terutama karena di zaman yang hanya menghargai kemenangan, kemenangan dan kemenangan, kalah seperti dihantam setan, serupa dikutuk Tuhan secara menakutkan. Dan sedikit yang bisa menemukan sesungguhnya ada yang indah ketika kalah. Serupa kayu yang sedang dihaluskan menjadi patung, seperti bambu yang sedang dilobangi menjadi seruling, mirip logam emas yang dibakar menjadi anting indah nan menawan, demikianlah bentuk keindahan yang ada di balik kekalahan. Syarat untuk sampai di sini sederhana, tidak melawan dan menendang, sebaliknya tersenyum memeluk ketulusan dan keikhlasan.
Ini yang menerangkan kenapa ada yang berbeda tatkala melihat senyuman Nelson Mandela, Bunda Teresa atau YM Dalai Lama. Kenapa kebajikan Haji Bambang di Bali mengundang demikian banyak kekaguman orang. Bagi hati yang bersih, lama terhubung dengan kesucian, menemukan kebahagiaan dalam pelayanan, bisa menangis haru tatkala melihat senyuman orang-orang ini. Kemudian memunculkan kerinduan untuk menyayangi dan menolong orang lain. Karena itulah doa sesungguhnya.
Seorang remaja pernah meneteskan air mata tatkala mendengar tangisan banyak babi disembelih di hari raya tertentu di Bali. Tatkala ditanya kenapa, dengan sedih ia bergumam, ia merasakan rasa sakit babi yang disembelih. Ini juga wajah lain manusia yang menyatu dalam doa, tidak saja lapar menyayangi dan melayani, tetapi juga merasakan penderitaan mahluk lain.
Terinspirasi dari kisah-kisah seperti ini, maka sebagian kecil manusia yang sudah menyatu dalam doa kemudian mengurangi frekuensi kunjungan ke tempat ibadah. Mereka berhenti berdoa dengan cara yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun pergi ke tengah keramaian, menyediakan tangan untuk pelayanan. Itu sebabnya, tatkala seorang guru zen tercerahkan mencari tempat mengajar meditasi di Amerika Serikat, ia menolak tempat-tempat damai seperti di pinggir danau yang sejuk, pantai yang sepi, di gunung yang hening. Tatkala muridnya menunjukkan tempat di gang sebuah kawasan kumuh di New York yang berisi orang berkelahi, manusia menyuntikkan narkoba, guru ini langsung berguman: “inilah tempat di mana vibrasi kedamaian diperlukan”.
Bahan renungan:
1. Terlalu banyak manusia yang berdoa lengkap dengan segala variasinya
2. Cuman, tidak banyak yang tersambung ke alam doa. Terutama karena kebanyakan manusia masih di angka 2 (baca: antara penyembah dan yang disembah masih terpisah)
3. Menyatu dalam doa (baca: angka 1) terjadi tatkala ego dan keakuan lenyap digantikan pelayanan dan kasih sayang. Yang sudah lama tenggelam dalam pelayanan mengerti, ternyata yang melayani dan yang dilayani tidak ada (baca: angka 0)
sumber : http://gedeprama.blogdetik.com/2012/10/19/menyatu-dalam-doa/
No comments:
Post a Comment